Kenaikan Rokok untuk Tutupi Kegagalan Tax Amnesty

Anggota Komisi VI DPR RI, Bambang Haryo (kanan) ketika memberi keterangan pers (foto: adi s/surabayaTIMES)
Anggota Komisi VI DPR RI, Bambang Haryo (kanan) ketika memberi keterangan pers (foto: adi s/surabayaTIMES)

KEDIRITIMES, SURABAYA – Isu kenaikan harga rokok sengaja dihembuskan untuk menutupi kegagalan program tax amnesty yang dijalankan oleh pemerintah.

Dengan begitu, perhatian publik beralih ke rencana kenaikan harga rokok menjadi Rp 50 ribu per bungkusnya. Anggota Komisi VI DPR RI, Bambang Haryo mengatakan, cukai rokok menempati pos penerimaan negara paling tinggi dalam APBN, karena bersumber dari konsumen rokok kelas menengah ke bawah.

Rakyat sudah menyumbangkan Rp 149 Triliun untuk APBN , sehingga kalau sampai harganya dinaikkan, pemerintah telah menyakiti rakyat. "Saya katakan pemerintah kalap karena tak mampu menutupi hutangnya yang saat ini mencapai Rp 4300 Triliun,” ungkap politisi asal Partai Gerindra ini,saat dikonfirmasi, Rabu (24/8/2016).

Pengusaha pelayaran tersebut menyindir Wakil Presiden RI, Jusuf Kalla (JK) yang mendukung terhadap rencana kenaikan harga rokok hingga tiga kali lipat. ”Dia (JK) tak pernah jadi rakyat kecil dan susahnya jadi rakyat kecil. Seenaknya saja bicara. Seharusnya sadar kalau dia jadi orang penting di negeri ini karena rakyat kecil tersebut,” ujarnya dengan nada tinggi.

Dengan naiknya harga rokok bukan berarti dapat menghentikan kebiasaan rakyat untuk merokok. Perokok pastinya akan tetap merokok meskipun harganya mahal, karena sudah kecanduan. "Kemungkinan besar angka korupsi dan kriminalitas akan tinggi karena orang akan berusaha untuk mendapatkan rokok bagaimanapun caranya,” sambungnya.

Jika dikaitkan dengan kesehatan, Bambang Haryo menampik akan mempengaruhi usia seseorang. ”Merokok tidak membuat usia orang pendek. Justru relaksasi yang didapat. Rata-rata perokok berumur panjang karena tingkat stresnya rendah dan merasa lebih rileks,” tutur politisi asal Dapil Surabaya-Sidoarjo ini.

Maka, DPR pasti menolak jika wacana kenaikan harga rokok menjadi Rp 50 ribu benar-benar direalisasikan oleh pemerintah. Kebijakan tersebut bisa dikatakan dapat mematikan industri perkebunan tembakau, pupuk, manufaktur hingga mematikan kios-kios kecil.

“Merokok itu sudah jadi budaya Indonesia sejak nenek moyang yaitu jaman kerajaan.Jangan sampai budaya ini hilang,”ungkapnya. (*)

Pewarta : Adi Suprayitno
Editor : Sri Kurnia Mahiruni
Publisher : Abi Fadlan
Sumber : Surabaya TIMES
Redaksi: redaksi[at]kediritimes.com

Informasi pemasangan iklan
hubungi : info[at]kediritimes.com | marketing[at]kediritimes.com
Top