Antara Kopi, Santri dan Kiai

foto ilustrasi (Merdeka.com)
foto ilustrasi (Merdeka.com)

KEDIRITIMES – Rokok dan kopi adalah dua hal yang hampir tak bisa lepas dari kehidupan mayoritas santri dan kiai.

Jadi ketika lembaga semacam MUI mengeluarkan fatwa hukum haram untuk rokok dengan berbagai rinciannya, maka ulama pesantren dan kalangan santri santai saja menanggapi.

Ada satu kitab yang dikenal di dunia pesantren berjudul Irsyadu al-Ikhwan fi Bayani al-Hukm al-Qahwah wa al-Dhukhan yang ditulis oleh Syaikh Ihsan Jampes. Kitab tersebut populer dikenal sebagai Kitab Kopi dan Rokok. Sebagaimana tersirat dari judulnya, kitab ini membahas soal status hukum kopi dan rokok.

Pada masa penulisan kitab ini, sudah beredar pendapat-pendapat fikih dari beberapa ulama yang menjatuhkan hukuman haram pada kopi dan rokok. Syaikh Ihsan Jampes menulis kitab tersebut untuk menyanggah hal tersebut. Di dalam kitab tersebut bagaimana dinamika perdebatan pendapat hukum keagamaan tumbuh subur pada masa itu, tidak seperti sekarang.

Jika seorang ulama ternama saja sampai menulis kitab khusus yang membahas kopi, maka itu bisa menunjukkan bahwa kopi sangatlah akrab di kalangan pesantren.

Ketika kita menengok pesantren, dengan mudah sekali  bisa menemukan segelas kopi di sela-sela kerumunan santri yang berdiskusi, di kamar santri yang sedang membaca kitab, kiai yang sedang mengajar santri ditemani kopi kegemarannya, bahkan sampai di dapur umum biasanya santri yang memasak menyempatkan waktu menjerang air untuk keperluan minum kopinya agar semakin semangat memasak.

Ketika para santri ke pondok pesantren lain, atau mengaji di pesantren lain, biasanya selalu disuguhkan minuman utama dengan kopi seakan-akan itulah tradisi dalam menjamu tamu yang dikenal di kalangan pesantren.

Menurut Elsam salah satu alumnus pondok Pesantren Lirboyo, kopi tak bisa dilepaskan dari kehidupan para santri. Kopi juga menjadi pemersatu sesama santri. Satu gelas kopi meruntuhkan perbedaan dan menciptakan persatuan nyangkruk bareng di tengah lorong-lorong kamar.

"Apalagi kopi yang telah diminum oleh kiai usai ngaji, menjadi momen yang ditunggu-tunggu untuk diperebutkan. Karena para santri meyakini terdapat berkah di dalamnya," tuturnya.

"Selain itu, kopi juga menjadi penyemangat saat bahsul masa'il setiap malam. Maklum, karena bisa sampai jam 3 pagi. Kopi bisa membuat mata tetap terjaga sampai akhir musyawarah itu,"cetus Elsam mantan alumnus Lirboyo yang sudah mengenyam pendidikan di Ponpes Lirboyo selama 5 tahun.

Ia menambahkan, dalam setiap cangkir kopi yang diteguk oleh para santri penghafal, rasa itu begitu berarti. Karena dengan itu, kita mampu menambah kemampuan dalam menghafal qur’an dari kebanyakan orang.

"Dalam setiap cangkir kopi itu pula, terdapat cita-cita yang dibawa oleh diri, orang tua, keluarga dan orang terdekat yang ada dalam hidup para santri,"imbuhnya.

Entah siapa yang memulai, akan tetapi kopi dan dunia pesantren mempunyai hubungan yang sangat lekat. Bahkan, kopi memberikan kontribusinya kepada kelestarian para penghafal al-Qur’an.

Kopi yang dapat membentuk miniatur sosial tidak hanya ditemukan di dalam kedai kopi rural dan urban, melainkan juga di dalam tembok pesantren. Nyaris masyarakat di Indonesia sebenarnya akrab dengan kopi, terlepas kopi itu buruk atau baik . Di pranata sosial di masyarakat kita pun akrab dengan kopi. Di pesantren pun nyaris tiada hari tanpa kopi.

Rokok, Kopi, dan pesantren adalah sebuah simpul budaya yang harmonis dan akan selalu hadir menjadi oase di tengah kehidupan sosial kita sekarang yang sangat jauh dari Identitas Indonesia itu sendiri. 

Pewarta : Eko Arif Setiono
Editor : Sri Kurnia Mahiruni
Publisher : Debyawan Dewantara Erlansyah
Sumber : Kediri TIMES
-->
Redaksi: redaksi[at]kediritimes.com

Informasi pemasangan iklan
hubungi : info[at]kediritimes.com | marketing[at]kediritimes.com
Top