Ngabuburit, Ekspresikan Bakat Melalui Seni Grafiti

Salah satu seniman grafiti menuangkan idenya ke dalam sebuah lukisan tembok. (eko Arif s /JatimTimes)
Salah satu seniman grafiti menuangkan idenya ke dalam sebuah lukisan tembok. (eko Arif s /JatimTimes)

KEDIRITIMES – Bicara Ramadhan tentu tak asing dengan ngabuburit. Ngabuburit memang menjadi sebuah kebiasaan masyakarat yang dilakukan menjelang buka puasa. 

Banyak hal yang biasanya dilakukan seperti berkeliling kampung, ketempat hiburan, ataupun membeli makanan untuk berbuka

Seperti hal nya yang dilakukan sejumlah anak muda di Kediri, untuk mengisi kegiatan ngabuburit pada Bulan Suci Ramadan tahun ini. 

Salah satunya adalah  melakukan kegiatan grafiti atau  melukis di tembok menggunakan media cat semprot (pylox).

Dua jam menjelang waktu berbuka puasa, sebelum adzan  Maghrib berkumandang.

Di perempatan lampu Trafict Light di jalan raya tembus Kaliombo terlihat segerombolan pemuda nampak asyik mencorat coret tembok.

Apa yang mereka lakukan ini menyita perhatian para pengguna jalan, yang kebetulan melintas di sana. 

Spontanitas dengan leluasa secara bergantian ke tiga pemuda ini menuangkan ide, pikiran dan gagasan yang ada di otak mereka untuk diwujudkan dalam sebuah gambar.

Menurut keterangan Yogi (28) warga Kelurahan Mrican Kecamatan Mojoroto Kota Kediri, konsep yang dilukis dalam tembok berukuran 3 X 6 meter ini sedikit menyinggung prihal pemilu 2019 mengenai  maraknya berita atau informasi hoax.

"Untuk mengisi ngabuburit mas, sedikit menyinggung pasca Pemilu. Sekarang banyak beredar hoax, banyak beredar berita yang nggak jelas. Disini saya menggambarkan  mata sama mulut terpisah jadi apa yang dilihat sama diomongkan berbeda," jelas pemuda yang membuka rintisan usaha jasa tato ini.

Yogi mengaku, sebelum proses menggambar dilakukan ia bersama dua orang temanya Oky dan Rendy terlebih dahulu harus meminta izin ke pemilik rumah. 

Setelah mendapat izin, ia baru berani  mulai menggambar. 

"Responya bagus, asal gambarnya tidak jorok,"kata dia.

Proses grafiti yang ia lakukan membutuhkan waktu dua hari, tergantung tingkat kesulitan objek yang digambar. 

Ia bersama dua orang temanya  saling bersinergi dan menguasai materi konsep yang digambar sehingga tidak terlalu mengalami kesulitan ketika menyatukan visi masing masing.

Yogi memaparkan bahan cat pylox yang dibutuhkan untuk menggambar ukuran 3 X 6, menghabiskan kurang lebih dua dos cat pylox. 

Jika dinominalkan, ia bersama temanya bisa menghabiskan uang 500 ribu.

"Kita beli cat pyloxnya pantungan mas, terkadang ada sisa cat pekerjaan di kafe masih bisa kita pakai lagi," pungkas pemuda lulusan  sekolah menengah kejuruan ini.

Mereka menganggap  grafiti bukan hanya sekedar hobi, melainkan juga aktualisasi diri dimana mereka bisa mengekprseikan bakat yang mereka miliki. 

Pada umumnya mereka memilih sasaran yang menjadi tempat untuk mengaktualisasikan diri pada sebuah tembok bangunan dipusat keramaian.

"Bangunan tembok yang ada dipusat keramaian, ini dimaksudkan untuk fungsi keindahan. Agar orang berkendara di jalan punya pandangan lain di jalan,"paparnya.

Dikota Kediri Jawa Timur, komunitas pecinta Grafiti hanya berjumlah 4. Dengan masing masing komunitas berjumlah 20 orang.

Yogi sendiri bukan termasuk dalam anggota komunitas, melainkan hanya sebatas fasilitator mengakomidir keinginan para pecinta seni grafiti di Kota Kediri. 

"Jika ada event life Grafiti kalau saya berhalangan tidak bisa. Lebih banyak saya serahkan ke teman lainya mas. Kita sering ikut event diluar kota di Blitar, Pare, Jogja, Jember dan Bali," timpalnya.

Yogi berusaha meyakinkan jika kesenian grafiti sebenarnya sangat berpotensi untuk membuka  peluang kerja.

Dengan bakat yang dimiliki mereka tinggal mengembangkan ide dan kreativitas.

"Sebenatnya membawakan peluang, karena dari grafiti anak itu bisa mengembangkan idenya. Bisa lari ke misalnya Sepatu lukis, Jaket lukis atau pun jasa jasa seperti desain,"ungkapnya

Yogi mengisahkan pengalamnya, dulu ketika  awal masuk dalam dunia seni grafiti pada tahun 2006 silam. 

Banyak orang yang mencibir dan memandang sebelah mata. 

Namun hal ini,justru membuatnya semakin termotivasi untuk membuktikan jika dirinya mampu. 

Dalam setiap kali event perlombaan grafiti ia selalu ikut berpartisipasi dan menang.

"Awal awal Kediri kan aneh tahun 2006, apa ini kok buang buang uang. Setelah tahu lomba menang terus dan banyak job akhirnya oh arahnya kesini,"kenangnya.

Yogi membandingkan, pelaku seni grafiti saat ini lebih mudah untuk mengekprseikan ide, karya dan gagasnya. 

Lain halnya jika dibandingkan waktu dirinya dulu yang sering kali terpaksa harus berururasan dengan aparat hanya dikarenakan dirinya tidak meminta ijin pemilik.

Pewarta : Eko Arif Setiono
Editor : Heryanto
Publisher : Debyawan Dewantara Erlansyah
Sumber : Kediri TIMES
-->
Redaksi: redaksi[at]kediritimes.com

Informasi pemasangan iklan
hubungi : info[at]kediritimes.com | marketing[at]kediritimes.com
Top