Kapolres bersaiam bupati Blitar dan forpimda menunjukkan BB dan pelaku penebar hoax virus corona.
Kapolres bersaiam bupati Blitar dan forpimda menunjukkan BB dan pelaku penebar hoax virus corona.

Polres Blitar berhasil mengungkap pelaku pembuat dan penyebar hoax atau berita bohong 15 warga Blitar positif corona. Pelaku berjumlah dua orang, satu wanita dan satu laki-laki.

Kapolres Blitar AKBP Ahmad Fanani Eko Prasetya mengatakan, usai heboh berita hoax tersebut, Tim Cyber Crime Satreskrim Polres Blitar langsung melakukan penelusuran. Dari hasil penelusuran, polisi berhasil menemukan akun Facebook dengan postingan sama persis dengan hoax yang awalnya beredar melalui tangkapan layar aplikasi WhatsApp tersebut.

Tak butuh waktu lama. Polisi menemukan pemilik akun Facebook. Dia adalah lelaki berinisial AR, warga Kecamatan Nglegok, Kabupaten Blitar.

Penyelidikan berlanjut. Dari keterangan AR, polisi berhasil menemukan asal muasal berita bohong tersebut dibuat.

Pelaku yang pertama membuat hoax itu adalah wanita berinisial I, warga Kecamatan Srengat, Kabupaten Blitar. Dari wanita itu,  hoax kemudian disebarkan di grup WhatsApp. 

"Hingga sampailah ke AR . Lalu oleh AR diteruskan dengan diunggah ke akun Facebooknya. AR ini adalah seorang pedagang di daerah Nglegok," ungkap AKBP Fanani, Rabu (18/3/2020).

Dia menambahkan, saat diperiksa, AR terbukti menyebarkan hoax terkait virus corona tersebut melalui Facebook. Dia tidak menyadari bahwa perbuatannya akhirnya akan menimbulkan kegaduhan di masyarakat.

Sementara I beralasan membuat hoax terkait virus corona itu untuk membatalkan kegiatan yang akan digelar kelompoknya. Untuk meyakinkan peserta, dia membuat isu hoax 15 warga Blitar kena corona itu  yang kemudian dibagikan melalui grup WhatsApp.

"Saat diperiksa, yang bersangkungan terbukti memang mengunggah di FB-nya. Dia tidak sadar bahwa akhirnya hal ini akan membuat kegaduhan," ucap kapolres.

AKBP Fanani menambahkan, saat ini keduanya masih terus menjalani pemeriksaan. Jika terbukti bersalah,  mereka akan dikenakan UU ITE dengan ancaman hukuman maksimal enam tahun penjara.  

"Kami mengimbau agar masyarakat tidak menyebar berita hoax. Kami dapat instruksi dari presiden dan kapolri agar seluruh penyebar hoax terkait virus corona diungkap dan ditangkap agar tidak membuat kegaduhan," pungkasnya.